 | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Remy Sylado |
SPOILER
Pengarang : Remy Sylado Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Sebuah naskah drama berlatar belakang abad ke-15, menceritakan tentang kisah percintaan sepasang anak manusia, Samik dan Lay Kun. Namun, percintaan keduanya pupus karena ulah penguasa yang sewenang-wenang.
Alkisah Adipati Wilotikto mempunyai istri 50 orang, namun entah kenapa semuanya tidak melahirkan seorang anak pun. Yang tidak diketahuinya adalah bahwa salah satu istrinya, Renggoning, melahirkan seorang anak laki-laki bernama Samik. Mendapat wangsit, sang Adipati berencana menikah lagi dan kemudian menceraikan ke-50 istrinya. Ia melamar Lay Kun, putri tunggal keluarga Tan Kim Seng.
Mendengar kabar ini, Renggoning, menyuruh anaknya, Samik, mendekati Lay Kun. Dari kata menjadi suka, temu menjadi rindu, meskipun awalnya Samik mendekati Lay Kun karena perintah ibunya, Samik jatuh hati padanya. gayung pun bersambut, Lay Kun pun demikian. Mengetahui hal ini, ayah Lay Kun menghajar Samik, ia sudah menerima pinangan Adipati Wilotikto kepada anaknya.
Mengetahui pertunangan sepihak tersebut, Lay Kun menjadi sakit. Hanya suara siau ling (seruling) Samik yang mampu menyembuhkannya, Samik menyamar sebagai ahli siau ling agar dapat bertemu dengan Lay Kun. Samarannya pun terbongkar, Samik tertangkap tangan sedang bercumbu dengan Lay Kun, ia kemudian tangkap oleh ayah Lay Kun.
Pada hari datangnya Adipati, Samik diserahkan kepadanya. Di depan orang-orang, Adipati menikam Samik dengan sebilah badik setelah mendengar apa yang telah dilakukannya. Kemudian terbongkarlah semua hal, Adipati tidak mau mengakui kebenaran bahwa Samik adalah anaknya. Melihat hal itu, Renggoning pun menikam Adipati, dan diikuti oleh punggawa terdekatnya satu-persatu. Lay Kun yang melihat Samik mati pun, segera menikamkan badik ke tubuhnya sendiri, menyusul roh kekasih tercintanya.
Menurut gw kisah buku ini mirip dengan Laila Majnun atau Romeo & Juliet. Yang membedakan adalah sebab musabab tidak bersatunya sepasang kekasih itu di dunia fana. Buku ini juga menggambarkan intrik-intrik yang biasa dilakukan oleh penguasa dan orang-orang di sekelilingnya. Buku ini mungkin merupakan sebuah satire bagi orang-orang pemegang kekuasaan, bahwa seberapa besar pun kekuasaan, sifatnya tidak langgeng. Novel ini juga mengajak kita agar tidak bersandar pada penguasa yang lalim. Bagi penikmat karya sastra, buku ini cukup bagus untuk menambah khasanah kesusastrannya, terutama karya sastra Indonesia.
Thank you for your appreciation. Warm regards.
  | dari dulu smpe sekarang emang masih ada ya yg namanya org tua ikut campur hubungan anak.. |
| |